Kepemimpinan Politik dalam Masyarakat Adat

Oleh :

Subhan Agung

Ketika kita mengkaji kepemimpinan masyarakat adat akan sangat berbeda dengan bayangan praktek-praktek kepemimpinan di masa modern saat ini. Model kepemimpinan masyarakat adat pun variatif, ada yang mensandarkan legitimasinya lewat representasi dukungan ada juga lebih kepada kewibawaan dan kharisma personal pemimpin.

Banyak ilmuwan yang sudah berusaha memetakan tipe-tipe pemimpin, peran pemimpin dan asal mula munculnya pemimpin. Weber (1947) lebih cenderung mengkaji pada kharisma pemimpin melalui sebab hubungan darah, institusi dan keturunan. Kajian tentang model kepemimpinan oleh Fiedler (1967) watak dan pribadi pemimpin oleh Hencley (1973), Stogdill (1974), Hoy dan Miskel mengkaji kinerja kepemimpinan (1987), Hill dan Caroll (1997) lebih melihat dimensi kepemimpinan sebagi direction (mengarahkan) dan menstimulan support (dukungan). Mitzberg lebih melihat tipe-tipe pemimpin dari peran-peran vital yang dimainkan pemimpin. Tipe tersebut meliputi pemimpin sebagai tokoh, pemimpin sebagai pembicara dan pemimpin sebagai pemecah persoalan masyarakat. Sedangkan Weihrich dan Koontz (1994), Hersey dan Blancard lebih concern pada identifikasi dan batasan pemimpin.

Batasan identifikasi pemimpin dari Weihrich dan Koontz (1994, h.490) sangat sederhana dan kontekstual untuk berbagai zaman. Mereka mendefinisikan pemimpin sebagai kemampuan seseorang dengan cara apapun, agar mampu mempengaruhi orang lain untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu sesuai dengan kehendaknya dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Di indonesia juga ada beberapa ilmuwan yang concern dengan penelitian kepemimpinan semisal Toha (2001) dan Sartono (2001). Menurut Sartono (2001), status sosial pemimpin informal didapatkan karena faktor keturunan, kekayaan, taraf pendidikan, pengalaman hidup, kharismatik, maupun jasa-jasanya pada masyarakat.

Dari berbagai pendapat yang muncul tentang kepemimpinan di atas, mungkin ada yang relefan, mungkin juga tidak, dengan konteks model kepemimpinan masyarakat adat Indonesia. Kemungkinan ada yang kurang relevan terjadi dikarenakan banyak model di tempat-tempat terasing yang selamini tidak tersampul dalam kajian-kajian ilmiah para peneliti.

Di kampung adat Naga misalnya kita mengenal model kepemimpinan lemaga  adat yang dipimpin kuncen pemangku. Peran kuncen pemangku ini adalah sebagai pemimpin umum masyarakat adat di segala bidang. Kuncen pemangku ini juga biasa dikenal sebagai pupuhu adat lembur. Selain adanya kuncen pemangku, terdapat jabatan lain yang perannya membantu kuncen dalam institusi lemaga adat yakni punduk dan lebai.Punduk adalah jabatan pemangku adat yang tugasnya mengurus dan mengayomi masyarakat, sedangkan lebai adalah jabatan pemangku adat yang salah satu tugasnya mengkoordininasi masyarakat mengurus jenazah orang meninggal sesuai syariat Islam.

Selain contoh di kampung Naga, kita juga mengenal pamarentahan Baduy. Dalam sistem ini dikenal suatu sistem pemimpin dengan nama-nama jabatan tersendiri. Diantara mereka yang paling tinggi jabatannya disebut para puun. Para puun merupakan kesatuan pemimpin tertinggi untuk mengatasi semua aspek kehidupan.

Bagi orang Baduy, seorang pemimpin dalam pamarentahan(jaro,
girang seurat, tangkesan kokolotan, kokolot, dan baresan),
berasal dari
keturunan para puun yang artinya,satu sama lain terikat oleh garis kerabat.
Dalam konteks itu, ciri penting dalam pamarentahan Baduy, terletak pada
diferensiasi perandan pembagian jabatan yang terpisahkan melalui struktur
sosial, namun semuanya terikat oleh satu hubungan kerabat yang erat. (Makmur 2010).

Perbedaan peran mendasar antara para pemimpin yang disebut puun dan yang disebut para jaro, adalah pada tanggung jawab yang berurusan dengan aktivitasnya. Jika para puun berurusan dengan dunia gaib (sakralitas), maka para jaro bertugas menyelesaikan persoalan-persoalan yang terkait dengan persoalan duniawi (profan). . Oleh karena itu, para puun menerima tanggung jawab tertinggi pada hal-hal yang berhubungan dengan pengaturan harmonisasi kehidupan sosial dan religius, sehingga kehidupan warga masyarakatnya dapat berlangsung dengan tertib (Ibid, 2010).

 

Referensi

AMAN, 1996, Masyarakat Adat Indonesia, dilihat 11 Oktober 2010, <http://aman.or.id/index.php?option=com_docman&Itemid=96>.

Sartono, Kartodirjo 1984, Kepemimpinan dalam Dimensi Sosial, LP3ES, Jakarta.

Koentjaraningrat, 1997, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Djambatan, Jakarta.Toha, Miftah 1986, Kepemimpinan dalam Manajemen, Ed.1, Cet.2, Rajawali, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: